Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Cabang Kota Palu Melaksanakan Penggalian dan Penelusuran Sejarah.

Belum lama ini Cabang Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulteng yang berkedudukan di Kota Palu, Sulawesi Tengah melakukan Penggalian Sejarah dengan melakukan Wawancara dengan salah satu Warga Kabupaten Tolitoli yang berdomisili di Kota Palu. Dalam Menggali Sejarah tentunya Rekan-rekan yang berada di Kota Palu tidak terlepas dari Komitmen KHTI dalam menggali sejarah. Mengapa demikian, karena sejarah merupakan bagian dari roda-roda kehidupan seiring dengan tumbuh dan berkembangnya Manusia di muka bumi. Sejarah Juga sebagai soko guru kehidupan yang dapat mengajarkan banyak hal akan cerita masa lampau untuk di rekonstruksi kembali.

Tolitoli merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Tengah yang terletak di bagian Utara Pulau Sulawesi serta menjadi jalur yang dilalui bangsa Portugis dari Melaka menuju Ternate pada Tahun 1512. Sejarah telah mencatat akan keberadaan Kerajaan Tolitoli pada masa lampau sebelum Kedatangan Bangsa Barat ke Bumi Totoli. Peristiwa Salumpaga merupakan klimaks dari Penguasa Kolonial Belanda yang bertindak jauh dari sifat kemanusiaan dengan harapan rakyat bisa hidup lebih merdeka dengan mengusir penjajah barat dari Tolitoli. Namun kenyataan berkata lain malah kekuasaan Kolonial Belanda masih terus berlanjut setelah tahun 1919 sampai dengan 1942. Kemenangan Besar Bangsa Jepang di Asia Pafisik membuat bangsa Belanda mulai khawatir. Daerah-daerah jajahannya di Nusantara satu per satu mulai direbut oleh Jepang salah satunya adalah Tolitoli. Awal babak baru penjajahan kembali dimulai oleh Pemerintah Militer Jepang. Pada Tahun 1945 Malomba Kecamatan Dondo mulai bergejolak dengan menyusun strategi untuk memberontak. Hasilnya adalah Terbunuhnya Imaki Kanrikan di tangan Lanoni.

Komunitas Historia Tolitoli adalah sebuah Komunitas Yang didirikan di Kecamatan Dondo pada tahun 2015 yang sebelumnya bernama Komunitas Pecinta Sejarah (KPS) Dondo-Tolitoli. Pada Tahun 2017 Komunitas ini berganti nama menjadi Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulawesi Tengah yang berkomitmen untuk Menggali Sejarah dan Memajukan Kebudayaan. Al-hasil pada tahun 2019 Komunitas mulai membentuk Cabang-cabangnya di Kota Palu dan Tolitoli Sekitarnya. Pusat Kedudukan Komunitas berada di Malomba dan Baolan sebagai titik central dari cabang-cabang yang ada. Cabang Komunitas yang baru memulai penggalian sejarah adalah Komunitas Historia Tolitoli Cabang Palu dengan mendatangi narasumber sejarah mengenai Tolitoli.

Semakin belajar banyak semakin merasa diri sendiri bodoh. Semakin berusaha belajar dan menggali potensi diri sendiri. “Orang orang akan berubah menjadi luar biasa setelah tau bahwa dirinya mampu melakukan gebrakan dalam hal yg diinginkannya” Terimah kasih untuk pengalaman dan akan menjadi berkelanjutan hal hal menarik seperti ini. Semoga menjadi star langkah baik untuk mengangkat sejarah dan budaya yang sudah lama tertidur ditanah sendiri. Mari berbenah. (Nuralia Firdaus beserta Anggotanya).

Iklan

Folklor Dalam Dunia Pendidikan

Menurut undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian dir, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia tentang pengertian Pendidikan, yang berasal dari kata “didik”, kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan, dan bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Usaha dalam mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan karakter yang baik terutama generasi muda disebut pendidikan. Pendidikan tentunya bertujuan untuk memanusiakan manusia dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan sehingga akan tercipta manusia seutuhnya. Pendidikan berkenaan dengan segala kegiatan yang berguna untuk menambah pengetahuan baik itu pengetahuan seseorang maupun pengetahuan kelompok. Generasi milenial memerlukan hal-hal yang menarik dalam mengembangkan gaya berpikir kritis agar bisa menghargai dan menghormati segala bentuk warisan budaya yang menjadi asset bangsa. Pada kurikulum 2013 lebih menekankan pada pembentukan karakter melalui pengembangan sikap yang berbudi pekerti  luhur sebab generasi milenial adalah generasi penerus bangsa yang akan meneruskan cita-cita bangsa  kedepannya.

Degradasi moral di era sekarang ini sangat memprihatinkan bagaimana tidak generasi milenial telah banyak melupakan sejarah dan budaya bangsanya sendiri bahkan diantara mereka tidak lagi menghargai dan menghormati yang lebih tua, bertindak sesuka hati dan gemar melakukan perbuatan-perbuatan tercela.  Salah satu dari pengaruh budaya luar yang tidak terfilterisasi oleh generasi milenial adalah maraknya membentuk kelompok dan mengatasnamakan geng motor dan maraknya aksi begal jalanan yang sebagian besar di dominasi oleh anak-anak masih berusia sekolah. Perlu adanya tindakan yang serius demi menyelamatkan generasi milenial dimulai dari menumbuh kembangkan budaya di kalangan mereka. peran agama juga di rasa mampu serta solusi terbaik agar generasi milenial dapat terselamatkan. Sudah barang tentu pranata-pranata sosial tersebut harus terjaga dan dikembangkan.

Lembaga pendidikan merupakan institusi sosial yang menjadi agen sosialisasi lanjutan setelah lembaga keluarga. Dalam lembaga pendidikan, seorang anak akan dikenalkan mengenai kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Menurut Kamanto Sunarto (2004) mengatakan lembaga pendidikan formal terpenting dalam masyarakat kita ialah sekolah yang menawarkan pendidikan formal mulai jenjang prasekolah sampai jenjang pendidikan tinggi baik yang bersifat umum maupun khusus.

Dari beberapa pengertian tersebut tentunya akan menghasilkan pengetahuan dari apa yang diajarkan oleh seorang pendidik dalam menjalankan dunia pendidikan yang baik. Dalam rangka mensukseskan pendidikan di Indonesia tentunya memerlukan sebuah media sebagai perantara penyampaiannya agar media pendidikan dapat tersampaikan kepada peserta didik. Dalam bahasa latin Kata Media berasal dri bahasa latin medius yang secara harfiah berarti penengah, perantara, sarana atau pengantar, peristiwa merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan demi membangkitkan kemauan seseorang dalam proses kegiatan.  Selain itu, media adalah alat, cara atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi, sedangkan pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran dan pemberian pengetahuan. Dalam hal ini keluarga dan sekolah menjadi pranata yang paling utama dalam melaksanakan pendidikan.

Pentingnya media pendidkkan dalam proses pendidikan dapat dijelaskan pada teori tingkah laku belajar bahwa menurut teori ini adalah mengubah tingkah laku siswa yang dimaksudkan harus tertanam pada diri siswa sehingga menjadi adat kebiasaannya. Media Pendidikan dengan demikian merupakan salah satu alat belajar yang dapat membantu memperjelas penafsiran dalam menyalurkan pesan sehingga dapat mengatasi gagasan penafsiran.

Salah satu hal yang dapat diajarkan melalui jalur pendidikan dalam menyampaikan kepada murid guna mempermudah proses belajar-mengajar adalah Folklor. Dalam upaya mendukung program pemajuan kebudayaan ternyata sekolah merupakan lembaga yang paling efektif selain masyarakat. Dalam upaya memperkenalkan budaya daerah harus ditanamkan sejak dini melalui lembaga keluarga dan sekolah. Seperti kita ketahui folklor adalah bagian dari sebuah tradisi lisan termasuk Objek pemajuan kebudayaan. Mengapa tidak, folklor dimasukkan kedalam kegiatan ektrakurikuler maupun media pembelajaran sebelum memasuki materi utama yang diajarkan.  Folklor sebagai media strategis untuk menyampaikan ide cemerlang dalam seluruh aspek kehidupan. Kapasitas teori telah menempatkan folklore sebagai alat, atau cara dengan tujuan dalam memahami berbagai aspek kehidupan.

Penggunaan folklore sebagai media pendidikan bisa dimanfaatkan dalam berbagai ilmu, yang tentu saja pemilihan folklor yang digunakan harus tepat dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Penggunaan folklore banyak membantu guru supaya murid lebih memahami apa yang disampaikan oleh guru. Selain berguna sebagai alat dan cara menyimpan informasi folklore ini juga dapat dimengerti oleh peserta didik dengan peran sebagai salah satu langkah dalam melestarikan budaya lokal yang ada. Program seperti ini sangat cocok diterapkan di kabupaten Tolitoli yang telah mengalami penurunan budaya jika dilihat dari generasi muda tidak mengetahui lagi budaya-budaya lokal yang ada di Tolitoli. Namun tak ada kata terlambat jika ada seseorang maupun kelompok atau komunitas yang mau mengangkat kembali budaya lokal yang telah tergerus oleh zaman.

Folklor bisa dikatakan mengandung nilai budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendidikan. Nilaiu budaya yang terkandung dalam folklor memberikan sebuah pesan-pesan sebagai sumber pengetahuan atau pendidikan bagi generasi muda milenial. Karenanya hakikat folklor merupakan objek atau bentuk sebuah ungkapan budaya dengan menyimpan nilai-nilai yang perlu diteladani dan diinternaslisasikan kepada generasi yang akan datang. Nilai-nilai budaya bangsa sepatutnya terus dilestarikan dalam berbagai sendi-sendi kehidupan dalam bemasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga generasi sekarang dan dimasa akan datang tidak mudah terprovokasi dan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat mengganggu esensi dari nilai budaya sebagai bentuk kearifan lokal.

Menurut Dananjaya, nilai merupakan konsep abstrak mengenai sifat kepribadian suatu yang kolektif dalam menghadapi  masalah kehidupan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu yang bernilai itu berarti berharga dan berguna bagi kehidupan manusia. Nilai budaya yang terdapat dalam folklor dapat menjadi sumber yang berguna dan bernilai dalam meningkatkan atau menambah pengetahuan siswa.

Kekurangpahaman mengenai pentingnya nilai budaya merupakan faktor utama kenapa kearifan lokalnya tidak mendapat perhatian dalam pembangunan. Masih ada orang yang menganggap bahwa tradisi budaya tidak relevan dengan kehidupan modern sekarang ini, padahal negara atau bangsa yang berhasil membangun kesejahteraan rakyatnya adalah bangsa yang membangun berbasis budayanya. Kenyataan ketidaknyambungan dalam berbagai program pembangunan yang terjadi dianggap karena kearifan lokal tidak berjalan atau tidak diperhitungkan dalam pembangunan. Program pembangunan yang dirancang selama ini tidak menjawab masalah-masalah yang dirasakan masyarakat secara langsung.

Berangkat dari hal tersebut menurut hemat kami (Komunitas historia Tolitoli) perlu adanya sinergitas antara pihak komunitas dengan sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Tolitoli dalam mengembangkan media folklore untuk menghidupkan kembali budaya tolitoli berbentuk lisan, sebagian lisan dan non lisan pada kegiatan pembelajaran dan ektrakurikuler disekolah-sekolah yang ada baik itu di tingkat SD Hingga SMA Agar budaya tetap lestari dan berkembang sementara kearifan lokal daerah dapat terjaga dengan sebagaimana mestinya. Menggiatkan sosialisasi pada lembaga  sekolah, keluarga da masyarakat tentunya komunitas akan lebih serius untuk ini demi sejarah dan budaya kabupaten Tolitoli serta generasi milenial lebih mengetahui, memahami bahkan mangaktualisasikan nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya. (ry-an)

Pentingnya Melestarikan dan Mengembangkan Olahraga Tradisional.

Sumber Gambar : PNGDownload.id

Kekayaan kultural yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sangat beragam. Kultur, etnis, ras dan agama yang berbeda-beda dari sabang hingga merauke terukir indah pada bumi yang dipijak ini. Berabad-abad lamanya bangsa Indonesia hidup dalam bertoleransi demi mewujudkan sebuah harmoni berbingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Di ketahui setiap kultur, etnis, ras dan agama memiliki budaya berbeda-beda jika dilihat dari segi ekspresi dan pengungkapannya. Undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan mengisyaratkan kepada kita bahwa pentingnya melestarikan, mengembangkan dan membina kebudayaan daerah untuk terus terjaga dan lestari. Undang-undang ini pun menyinggung tentang objek-objek pemajuan kebudayaan diantaranya adalah permainan dan olahraga tradisional.

Olahraga Tradisional adalah permainan-permainan rakyat yang hidup dalam suatu masyarakat yang telah mengakar, tumbuh dan berkembang secara turun-temurun dan diwariskan pada generasi yang satu ke generasi berikutnya. Budaya bangsa yang hampir punah ini akibat perkembangan zaman dimana generasi milenial di perkotaan lebih cenderung berdiam diri di rumah sambil memainkan androidnya setelah pulang sekolah. Fenomena seperti ini telah terjadi di sekitar kita tanpa adanya proses filterisasi yang dilakukan oleh orang tua bahwa bersosialisasi itu lebih penting sambil bermain. Pada perkotaan, olahraga tradisional hampir tidak pernah ditemukan bahkan telah punah dan hanya menjadi permainan anak-anak tempo dulu. Sisi lain berbeda dengan kehidupan perkampungan yang jauh dari riuk dan hiruk pikuk kota metropolitan olahraga semacam ini masih dapat ditemui pada kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Contohnya adalah Olahraga Tradisional Enggran, sepak raga, Panahan bahkan pencak silat yang masih lestari sampai sekarang.

Olahraga secara umum merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu, seseorang memperagakan kemampuan geraknya dan kemauannya semaksimal mungkin. Bersifat netral dan umum serta tidak digunakan dalam pengertian olahraga secara kompetitif sebab pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi dan terorganisasi (formal) maupun tidak resmi (informal). Cakupannya neliputi olahraga prestasi, olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi. Nah, Olahraga tradisional termasuk dalam olahraga rekreasi yang diciptakan oleh para pendahulu kita sebagai bagian dari budaya demi mencapai kebahagiaan dan menyehatkan badan. Olahraga tradisional berasal dari leluhur oleh leluhur dan untuk anak cucu tentunya. Dari beberapa paragraf demi paragraf bisa diartikan bahwa olahraga tradsional wajb dilestrikan dan dikembangkan dengan solusi awalnya adalah dari beberapa unsur yang ada harus menciptakan sebuah kerjasama dalam membangun kemajuan kebudayaan di Tanah air.

Olahraga tradsional ini merupakan kekayaan bangsa maka sepatutnya perlu diangkat kembali dalam usaha mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Pemerintah telah membuka selebar-lebarnya jalan terbaik bagi pemajuan kebudayaan demi perkembangan dan pelestarian kebudayaan ke depan. Melalui Pidato Presiden pada kegiatan kongres kebudayaan yang digelar Desember 2018 kemarin beliau mengisyaratkan tentang penting sebuah budaya dan harus tetap terjaga kelestariannya serta dikembangkan maka melalui sebuah kesempatan itu, beliau juga menyampaikan pesan tentang “Indonesia Bahagia” dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena itu, marilah kita turut serta dan bahu-membahu menggali, melestarikan dan mengembangkan kembali kebudayaan sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat diseluruh Indonesia. Permainan olahraga tradisional merupakan hasil penggalian dari budaya tiap etnis, kultur di daerah masing-masing yang mengandung nilai-nilai pendidikan karena dalam kegiatan permainannya memberikan rasa senang, gembira dan ceria pada pelaku yang memainkan olahraga tradisional ini. Mengembangkan sebuah potensi yang ditunjukkan dalam penyesuaian sosial dengan tetap melestarikan dan mencintai budaya bangsa.

Berbagai upaya mulai dilakukan dalam pengembangan dan pelestarian olahraga tradisional agar objek kebudayaan yang hampir punah ini dapat terus terjaga. Tidak menutup kemungkinan tetap saja akan menghadapi berbagai kendala karena memang olahraga tradsional semacam ini telah lama ditinggalkan oleh generasi milenial akibat permainan modern yang begitu maju dan menarik serta dipengaruhi oleh budaya dari luar melalui media televisi, Koran, majalah bahkan lingkungan yang mengikut perkembangan budaya dari luar tersebut. Kemjuan dunia digital juga menjadi salah satu penghambat dari perkembangan olahraga tradisional meskipun begitu banyak cara yang perlu dilakukan demi menjaga kelestarian olahraga ini tentunya perlu ada kerjasama antar stakeholder terkait dengan para penggiat budaya serta budayawan di tiap-tiap daerah.

Tenaga-tenaga penggerak yang terampil harus diberikan ruang baik dari segi moril maupun materil demi mejaga, melestarikan, dan mengembangkan asset budaya bangsa contohnya olahraga tradisional ini. Apalagi di zaman sekarang sudah banyak tumbuh para penggiat budaya yang siap untuk mengembangkan objek kebudayaan ini.

Perlu diketahui, Kebudayaan Nasional yang bersumber kepada kebudayaan daerah perlu adanya pembinaan dan pemeliharaan serta pengembangan kebudayaan tersebut dengan dimulai dari usaha penggalian serta pengumpulan data dari unsur-unsur kebudayaan daerah di tanah air. Pada Kabupaten Tolitoli yang juga memiliki keanekaragaman budaya multietnik tentunya memiliki berbagai jenis budaya yang telah hampir punah bahkan ada yang telah ditinggalkan. Maka demi menjawab kegelisahan para budayawan dalam rangka menyelamatkan, mengembangkan dan melestarikan melalui berbagai macam cara Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) hadir sebagai wadah berkumpulnya para penggiat sejarah dan budaya yang ada di tolitoli. Komunitas ini didirikan pada tanggal 5 Juni 2015 kemarin dengan program pertama melalui jalur pendidikan dan mengalami perkembangan hingga sekarang.

Olahraga tradisional ini memiliki dimensi lain, yakni potensi untuk mendukung dunia parawisata. Keunikan dari olahraga tradisional ini akan menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik untuk datang ke kabupaten Tolitoli. Terlebih lagi didaerah Dondo ada satu permainan olahraga tradisional disebut Pangkilan (Adu Betis) yang harus mendapat sentuhan kembali sebab budaya ini hampir tak terlihat lagi. Selain itu, Memanah dan seni Beladiri khas daerah Tolitoli juga perlu dikembangkan dan dilestarikan. Olahraga tradisional in berdampak sangat positif demi mewujudkan masyarakat yang sehat, bugar dan berkecukupan bergerak karena dalam olahraga ini terkandung aktivitas dan gerak fisik yang mendukung kesehatan. Pelestarian, pembinaan, dan pengembangan olahraga tradisional harus dilakukan serta di upayakan sedini mungkin agar budaya ini tak punah ditelan zaman demi membangun pondasi kuat membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

Dalam dunia pendidikan juga perlu dibudayakan sebab pembelajaran yang paling efektif dalam memperkenalkan olahraga tradisional adalah disekolah-sekolah setingkat SD/SMP Sedangkan pada masyarakat luas tak ketinggalan pula untuk kembali melestarikan budaya olahraga tradisional melalui sosialisasi dan gerakan dari Lurah maupun kepala Desa untuk menggiatkan kembali objek kebudayaan yang satu ini. Harapan kami (baca: Komunitas Historia Tolitoli) agar sekiranya saran dan masukan ini terlaksana sehingga kita mampu menjaga salah satu hal yang termasuk dalam 10 Objek Pemajuan Kebudayaan yaitu Olahraga Tradisional demi menjaga kearifan lokal budaya bangsa agar tidak punah.

Pembinaan olahraga tradisional dianggap mampu untuk melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional pada tingkatan lembaga formal maupun non formal agar senantiasa dapat lestari dan berkembang di kemudian hari. Olahraga tradisional dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai warisan bangsa Indonesia agar olahraga ini menjadi terkodumentasi dan tersosialisasikan sehingga hal tersebut menjadi semakin penting karena UNESCO mulai mendokumentasikan kebudayaan seluruh Negara di dunia sebagai warisan kebudayaan dunia atau world heritage.

Selain itu, langkah yang baik adalah kembali melakukan riset atau penelitian mengenai olahraga tradisional yang berada di Kabupaten Tolitoli kemudian membukukan kumpulan olahraga tradisional yang tersebar pada masyarakat di Kabupaten Tolitoli dan kami dari komunitas siap berkontribusi untuk ini tentunya dengan bekerjasama antar stakeholder terkait.

Ragam Olahraga Tradisional di Kabupaten Tolitoli.

Undang-Undang No. 5 tentang Pemajuan Kebudayaan Tahun 2017 memberikan penjelasan mengenai arti kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, rasa dan hasil karya masyarakat. Sedangkan Kebudayaan nasional Indonesia adalah keseluruhan proses dan hasil interaksi antar- kebudayaan yang hidup dan berkembang di Indonesia. Salah satu objek kebudayaan yang ingin dikembangkan dan dilestarikan adalah olahraga tradisional yang berada di daerah masing-masing. Boleh dikatakan olahraga tradisional antar daerah yang ada di Nusantara sedikit banyak mengalami persamaan dengan daerah-daerah lain yang berada di Indonesia. Contohnya adalah Olahraga Bela diri, pacuan kuda atau sapi dan olahraga tradisional lainnya.

Daya tarik olahraga sangat mempengaruhi segala aktivitas setiap manusia, partisipasi dalam tingkat permainan bertujuan untuk rekreasi sampai tingkat professional dari usia muda sampai usia lanjut. Dengan alasan berbagai aktivitas olahraga tersebut untuk kebugaran, pembentukan karakter, bersosialisasi serta menyehatkan badan.  Penjelasan lebih lanjut juga terdapat dalam definisi Olahraga tradisional adalah berbagai aktivitas fisik dan mental yang bertujuan untuk menyehatkan diri, peningkatan daya tahan tubuh didasarkan pada nilai tertentu, secara berkelompok dan terus menerus serta diwariskan pada generasi berikutnya.

Olahraga asli  yang berasal dari tiap-tiap daerah di Indonesia namun belum dikenal secara luas. Beberapa contoh olahraga tradisional sebelum pemerintah mencanangkan pemajuan kebudayaan adalah loncat batu pulau nias, gentao dan paraga yang hanya dikenal sebagai bentuk budaya secara keseluruhan belum memiliki pembagian-pembagian seperti sekarang ini diatur dalam undang-undang. Olahraga ini memang kurang dikenal akan tetapi di sebagian daerah olahraga ini cukup popular dan sering dimainkan. Pada zaman sekarang olahraga ini mulai tergerus zaman dan tergantikan oleh perkembangan teknologi digital dengan menyuguhkan bentuk permainan tanpa menguras energy dan tenaga.

Menurut Rosdiani (2003:147) membagi ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi Permainan dan olahraga yang salah satunya adalah olahraga tradisional selain aktivitas olahraga-olahraga lainnya. Dengan begitu, olahraga tradisional juga memiliki tempat dalam konsep pendidikan jasmani dan harus di usahakan pengembangan dan pelestariannya demi anak cucu kelak. Terlebih lagi Pemerintah telah mengupayakan pemajuan kebudayaan Indonesia melalui dirjen kebudayaan kemdikbud. Legalisasi undang-undang tentang pemajuan kebudayaan diharapkan mampu memberikan angin segar bagi pelaku seni dan budaya dalam menjaga kelestarian dan pengembangan kebudayaan tentunya.

Olahraga tradisional sebagai asset kekayaan budaya bangsa dapat menjadi pondasi kokoh dan kuat dalam membangun karakter bangsa sebagai bentuk upaya mempererat persatuan dan kesatuan Indonesia yang sekarang ini lagi didera berbagai bentuk permasalahan disintegrasi bangsa. Olahraga tradisional ini lebih menitikberatkan pada sebuah permainan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Mendefinisikan olahraga tradisional adalah aktivits fisik yang dilakukan secara sadar dan disengaja serta menggunakan aturan atas dasar kebiasaan yang secara turun temurun terjadi di suatu masyarakat. Dalam pelaksanaannya aturan permainan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di daerah tersebut. Dengan kata lain permainan bukan hanya jasmani melainkan jiwa.  

Kabupaten Tolitoli memiliki tiga etnis lokal atau asli diantaranya Etnis Tolitoli, Etnis Dondo dan Etnis Dampal. Namun sangat disayangkan etnis dampal jika dilihat dari segi bahasa dan budayanya sudah mulai punah. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan Garantjang menyebutkan pada tahun 1987 etnis Dampal mampu berbahasa Dampal hanya berkisar 5% saja. Tentunya pada tahun ini pengguna bahasa bahkan budaya sudah tenggelam dengan alasan bahwa bahasa dampal bukan bahasa modern terganti dengan bahasa bugis yang jumlah populasinya makin bertambah dari tahun ke tahun.

Olahraga Tradisional yang dapat kita jumpai antara kedua etnis lokal ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di daerah lain sebab pengaruh dari Ternate dan Makassar sangat signifikan di kabupaten Tolitoli. Olahraga Tradisional itu adalah Lelempa (enggrang), terompah panjang, Memanah, dan Galasin (Kalaar). Olahraga memanah merupakan salah satu olahraga yang di sunahkan oleh Rasulullah SAW. Adapun penjelasan singkat mengenai permainan olahraga tradisional ini sebagai berikut :

Lelempa (Enggrang)

Enggrang merupakan sebuah Permainan Tradisional dan juga termasuk dalam olahraga tradisional sehingga dapat dikatakan Permainan Olahraga Tradisional. Dalam bahasa tolitoli enggrang ini disebut Lelempa. Permainan olahraga ini biasa dimainkan oleh semua kalangan baik tua maupun muda. Di tolitoli sendiri permainan olahraga ini biasa dimainkan oleh anak-anak sebagai bentuk pewarisan budaya permainan olahraga tradisional. Belum lama ini permainan olahraga tradisional ini dimainkan pada acara kegiatan Haornas Tahun 2019 di Kota Tolitoli.

Dalam permainan enggrang atau lelempa dibutuhkan sebatang bamboo berukuran kecil dan cara membuatnya relative mudah dengan menempelkan kayu pada sebatang bamboo dengan ketinggian 0,5 m dari tanah. Perlombaan atau pertandingan enggran (lelempa) dering dimainkan pada kegiatan hari-hari besar nasional seperti yang baru saja pemerintah kabupaten Tolitoli laksanakan dalam memeriahkan hari Olahraga Nasional tahun 2019.

Kalaar (Galasin)

Jenis permainan olahraga tradisional  yang mulai menghilang di telan zaman tergantikan oleh perkembangan teknologi digital (gadget) yang menyuguhkan game berbasis android yang bisa dimainkan kapan saja seperti PUBG, Mobile Legend, Clash of Kings dan lain-lain. Sangat prihatin juga miris melihat kondisi anak-anak yang tak mau lagi berinteraksi satu sama lain dalam dunia nyata dan terlena dengan dunia digital. Sudah barang tentu interaksi antar teman menjadi berkurang bahkan tidak saling mengenal lagi.

Dalam bahasa Tolitoli permainan olahraga ini disebut Kalaar yang di mainkan oleh 5-7 orang peserta dengan membutuhkan lapangan yang luas.

Terompah Panjang/Bakiak.

Melakukan permainan ini dibutuhkan kayu sekitar 1,5 M dengan cara pembuatannya sangat mudah. Pada permainan ini dibutuhkan sebuah kekompakan karena apabila salah maka maka akan sulit untuk melangkah bahkan terjatuh.  Selain itu, permainan ini dimainkan pada peringatan Haornas tahun 2019 dengan mengusung tema “Ayo Olahraga” dengan mengajak semua lapisan masyarakat yang ada di tolitoli untuk berolahraga dan membudayakan senam missal, jalan santai dan yang terpenting adalah Olahraga Tradisional.

Memanah

Memanah adalah salah satu olahraga tradisional yang telah ada sejak Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Kegunaannya pada saat itu adalah untuk berburu binatang dan berperang. Seperti kita ketahui Tolitoli merupakan salah satu daerah yang pada masa lampau berbentuk kerajaan dan sejak Islam serta Pengaruh Ternate yang dibawa oleh para mubaligh maka sistem kerajaan berganti menjadi kesultanan Tolitoli dengan Sultan Pertama adalah Djamalul Alam bergelar Tamadikanilantik.

Olahraga tradisional ini harus dikembangkan dan dilestarikan sebab merupakan warisan dari kebudayaan tolitoli dimasa lampau yang senang berburu rusa. Olahraga tradisional ini juga merupakan bagian dari olahraga tradisional daerah lain yang telah dibukukan oleh Kementrian pendidikan dan kebudayaan contohnya, Sunda dan Jawa itu brerarti bukan Tolitoli saja yang memiliki olahraga semacam ini. Seiring berjalannya waktu olahraga memanah atau panahan masuk dalam olahraga nasional dan sering di pertandingkan dalam event SEA GAMES. ASIAN GAMES DAN Olimpiade.

Bagi etnis Dondo sendiri juga memiliki kemiripan dengan Olahraga tradisional yang ada pada etnis Tolitoli. Dalam etnis Dondo, permainan olahraga tradisionalnya selain pembagian-pembagian yang telah disebutkan antara lain:

Pangkilan (Adu Betis)

Adu betis dalam bahasa Dondo disebut Pangkilan biasa dimainkan oleh orang dewasa. Dilakukan pada saat melaksanakan upacara adat panen dan adat monganjule. Permainan ini merupakan permainan olahraga tradisional yang memgutamakan kekuatan dan ketahanan betis saat lawan menyerang.

Beladiri atau Silat

Olahraga tradisional ini juga memiliki historis tersendiri berdasarkan dari sejarah orang dondo masa lampau yang terkenal keras dan kuat serta memiliki keahlian dalam seni beladiri sehingga dapat dikatakan Jawara-jawara dari tanah Dondo. Olahraga ini berkembang menjadi olahraga yang bersifat nasional dengan dipertandingkan pada event nasional maupun internasional sebab seni Beladiri atau Pencak silat bukan hanya terdapat di daerah dondo saja melainkan seluruh Nusantara maupun rumpun melayu memilikinya dengan sebutan yang berbeda-beda.

Memeriahkan Hari Olahraga Nasional Tahun 2019 dengan Menjunjung tinggi Sportivitas mari Masyarakatkan Olahraga agar badan sehat. Kembangkan dan lestarikan Olahraga Tradisional sebagai warisan leluhur. “Ayo Olahraga”.

Penelusuran Awal Kerajaan Tolitoli (Tulisan Singkat).

Dalam Penulisan atau Historiografi Sejarah dikenal dengan beberapa pembabakan sejarah. Pembabakan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk merekonstruksi kembali peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Metodologi sejarah sebagai sebuah metode yang tak dapat dipisahkan dalam merekonstruksi pembabakan sejarah Indonesia.

Tolitoli merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah tentunya memiliki sejarah masa lampau. Islam memasuki Tanah Tau Totoli tidak terlepas dari jalur perdagangan. Catatan orang Portugis bahwa pada tahun 1500-an mereka telah menemukan kampung-kampung muslim di beberapa daerah. Terlebih lagi pengaruh kesultanan Ternate di Buol dan Tolitoli.

M. C Ricklefs menyebutkan bahwa proses islamisasi berlangsung dalam dua proses yakni, penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam dan menganutnya dan orang-orang Arab, India dll yang menganut Islam bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah baik itu melalui pernikahan dengan mengikuti gaya hidup lokal. Itu berarti adanya peranan para mubaligh-mubaligh Islam dari Ternate maupun Sulawesi Selatan berdarah arab campuran menyebarkan Islam di Tolitoli.

Sepanjang sejarah bahwa Tolitoli mempunyai pemerintahan bersifat kerajaan dimana puncak kejayaannya setelah masuknya agama Islam sekitar abad ke-17, yang dibawa oleh para mubaligh dari kesultanan Ternate. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pemerintahan di Tolitoli sebelum bersifat kerajaan masih memegang sistem pemerintahan tradisional. Pemerintahan yang dipegang oleh Pemimpin adat yang dipercaya sebagai Manurung atau orang yang bijak diyakini memerintah di era Tolitoli masa klasik.

Pada abad ke-17 hubungan antara pemerintahan penguasa lokal Tolitoli dengan Kesultanan Ternate semakin baik.  Hal ini dapat dibuktikan dengan salah satu raja tolitoli mendapat kehormatan untuk dinobatkan di Ternate. Raja tersebut adalah Imbaisug. Beliau berlayar ke ternate ditemani oleh saudaranya yang bernama DJamalul Alam. Sayangnya Raja Imbaisug meninggal dalam perjalanan kembali ke Tolitoli. Maka dengan begitu Djamalul Alam menggantikan Raja Imbaisug. Sejak saat itu tatanan pemerintahan di Tolitoli berkembang sebagai Kerajaan bergelar “Tamadikanilantik” kemudian selanjutnya bergelar kesultanan.

Sultan Djamalul Alam memiliki dua orang Putra bernama Sultan Mirfaka dan Muhiddin. Setelah Djamalul Alam mangkat maka beliau membagi pemerintahannya menjadi dua bagian agar tidak terjadi konflik dikemudian hari maka Sultan Mirfaka dilantik menjadi dan memerintah di Dondo sementara Muhiddin dilantik di wilayah Tolitoli dan tidak bergelar Sultan yang diberi julukan Tau Dei Beanna.

Sepeninggal Muhiddin pemerintahan selanjutnya diberikan kepada Mohammad Yusuf Syaiful Muluk Muidjuddin, yang bergelar Malatuang (artinya yang patut disembah) mulai 1781-1812. Sementara Sultan Mirfaka belum diketahui dengan pasti siapa yang menggantikan beliau. Kami akan menelusuri sejarah mengenai Silsilah yang diturunkan dari Sultan Djamalul ke Sultan Mirfaka demi meluruskan sejarah Tolitoli.

Raja Bantilan Syaifuddin Merupakan pengganti dari Raja yang bergelar Malatuang kala Beliau mangkat. Pada era pemerintahan Raja Bantilan Syaifuddin Belanda memasuki wilayah Tolitoli yang sebelumnya tidak diterima oleh Kerajaan Tolitoli. Hal ini dapat dibuktikan oleh Persetujuan Lange-Contract pada tanggal  5 Juli 1858 yang ditandatangani antara Dirk Francois bersama Raja Bantilan Syaifuddin. Lange-Contract ini merupakan bukti pengakuan Belanda akan kedaulatan kerajaan Tolitoli dalam hal hubungan dagang antara kedua belah pihak meskipun dalam lange-Contract tertera beberapa aturan-aturan.

Di masa pemerintahan Raja Haji Abdul Hamid Bantilan kehidupan ekonomi justru membaik dari segi perdagangan.  Hal inilah yang membuat Kolonial Belanda makin menunjukkan tabiat kurang baik dan mulai melakukan penekanan terhadap kerajaan dan masyarakat Tolitoli terlebih lagi ketika pengaruh sarekat Islam mulai berkembang di Tolitoli. Kondisi politik dan pemerintahan di masa mangkatnya Raja Abdul Hamid Bantilan makin tak menentu. Dimana penandatanganan korte velklaring oleh Raja Ismail Bantilan seakan dipaksakan. Kenyataannya, Raja Ismail Bantilan tetap menyatakan untuk menentang kolonial Belanda dan tak mau tunduk kepada Kolonial Belanda.

Kondisi makin memburuk dengan  ketegangan antara Raja Ismail Bantilan dan pihak Kolonial Belanda secara terus menerus. Bukan hanya itu, Pengaruh Sarekat Islam yang dibawa oleh Rohana Lamarauna seakan mengancam pemerintah kolonial. Setelah Raja Ismail Turun Tahta maka Raja Mogi Ali Bantilan dikukuhkan sebagai Raja. Di era Pemerintahan beliau ini peristiwa Salumpaga terjadi dengan alasan kekuasaan Belanda telah semena-mena menindas rakyat.

Peristiwa Salumpaga membuat Kontroliur Belanda dan Raja Mogi Ali Bantilan Terbunuh. Maka selanjutnya pemerintahan Kerajaan Tolitoli dibawah perwalian dengan pemegang pimpinan tertinggi adalah Residen Manado untuk onderafdeling Tolitoli. Selanjutnya Mohammad Saleh Bantilan dilantik menjadi Raja Tolitoli yang sebelumnya adalah Raja muda sepeninggal Raja Mogi Ali Bantilan.

Beberapa hal yang patut dicatat adalah penulisan artikel ini merupakan sebuah gambaran mengenai Kerajaan Tolitoli yang nantinya akan dilakukan penelusuran lebih lanjut mengenai Sejarah Kerajaan Tolitoli sebagaimana sebuah silsilah yang beredar baik itu di media sosial maupun internet dijadikan acuan dan perlu pembuktian lebih lanjut.

Refleksi 1 Muharram 1441 Hijriah sebagai Momentum Berbenah Diri.

Hijrahnya Nabi Muhammad SAW Ke Madinah bisa dikatakan membawa pengaruh yang besar dan sangat signifikan bagi perkembangan Masyarakat Islam. Pondasi Peradaban dan Kebudayaan Islam mulai ditata dengan baik oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Hijrahnya beliau meninggalkan Kota Makkah memiliki alasan tersendiri sebab Kekejaman dan Penindasan yang dilakukan oleh Kaum Quraisy sudah diluar kewajaran dan tak berprikemanusiaan. Kaum quraisy memahami bahwa Dakwah Islam yang disiarkan oleh Rasulullah SAW akan menghancurkan keserakahan dan kekuasaan kaum quraisy yang promordialisme kesukuan.

Dalam perjalanan sejarah Jazirah Arab terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab hijrahnya Rasullullah SAW Ke Madinah diantaranya adalah adanya baiiat-baiat atau sebuah janji-janji setia. Disusul dengan suasana Yatsrib begitu kondusif sebab beberapa suku yang berada di sana Telah Masuk Islam secara kaffah. Sejak saat itu penduduk Yatsrib mulai ramai memasuki Kota Makkah untuk masuk Islam dan melaksanakan Ibadah.

Setelah kaum muslimin berhijrah menuju kota madinah barulah Rasullullah SAW bersama Abu Bakar melaksanakan hijrah ke Madinah. Kesuksesan hijrah ditandai dengan perencanaan yang matang dan telah dipersiapkan. Dampak perubahan kebudayaan yang paling significan dapat kita jumpai di belahan Indonesia. Merubah tatanan sosial masyarakat tentunya tidak mungkin. Perubahan yang paling mendasar yang ingin diciptakan oleh Rasulullah SAW adalah akhlak sifat dan perilaku masyarakat arab yang telah dibutakan oleh Tuhan yang mereka buat sendiri pada zaman itu. Salah satu bangunan yang dibangun pertama setelah memasuki kota Madinah adalah Masjid Nabawi yang masih di kenal hingga sekarang ini.

Pembangunan Masjid Nabawi di bangun bukan hanya sebagai tempat beribadah melainkan memperbaiki ahlak dan perilaku sebab masyarakat di Jazirah Arab masih perlu dibenahi demi perkembangan masyarakat yang madani. Hasil perjuangan baginda Nabi Muhammad SAW sampai sekarang masih bisa kita lihat di belahan bumi mana pun baik itu ilmu pengetahuan, teknologi maupun hal lainnya. Masjid Nabawi disamping sebagai tempat beribadah tetapi juga sebagai sarana bermusyawah dan menciptakan pemimpin-pemimpin muslim yang memiliki kompetensi.

Membangun Ukhuwah Islamiyah merupakan bagian dari tugas besar Baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan jalan mempersaudarakan atau menyatukan persepsi kaum Anshar dan Muhajirin agar kedua kaum ini dapat menjaga ikatan tali silahtrahmi yang sudah direkatkan oleh Rasulullah SAW. Saling bekerjasama bahu membahu bergotong royong dalam membangun madinah sebagai negeri khilafah untuk pertama kalinya dengan pondasi pemerintahan berlandaskan aqidah dan syariat Islam.

Keberhasilan ini tidak lepas dari sebuah bentuk kecerdasan berusaha mempersatukan dengan melenyapkan rasisme dalam diri masing-masing kaum tersebut. Dimata Allah SWT semua sama hanya yang membedakannya adalah Iman dan Takwa seseorang. Dari keberhasilan inilah Rasulullah SAW Berhasil membangun masyarakat Islam dengan persatuan ukhuwah Islamiyah, egalitaris bepondasikan Iman dan aqidah Islam. Rasulullah SAW telah berhasil memberikan kenyamanan dalam kehidupan sosial masyarakat Madinah dan melenyapkan paham fanatisme kesukuan serta menggalakkan kebhinekaan sebagai suatu rahmah untuk bersatu.

Piagam madinah merupakan simbol dari pengakuan akan hak-hak seseorang untuk bebas menjalankan agamaNya masing-masing dansaling tolong menolong dalam hal apapun serta harta kekayaannya dilindungi oleh Rasulullah SAW.

Tentang perayaan Tahun baru sendiri dimaknai untuk mengenang peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Semenjak hijrahnya Kaum Muslimin ke Madinah perkembangan Islam mulai dirasakan. Masyarakat Madinah sangat menerima dan memberikan respon yang positif akan kehadiran kaum muslimin tersebut. Tahun baru Islam mulai diperingati sejak Perang Dunia II dan Perang Dingin Usai. Peringatan ini di isi berbagai ragam kegiatan diantaranya tabligh akbar dan Zikir Bersama seraya berdoa memohon ampunan dari Allah SWT.

Refleksi 1 Muharram juga sebagai sarana untuk kembali mengingat peristiwa-peristiwa sejarah Islam di awal penyebarannya hingga perkembangan Islam di masa kejayaan Kesultanan-kesultanan bercorak Islam di dunia. Selalu bersyukur akan karunia yang diberikan sembari mengintrospeksi diri dan beristigfar memohon ampunan dari Allah SWT. Sebab Hijrah yang sesungguhnya terletak dari hati dan perilaku manusia sudah sampai sejauh mana seorang muslim dapat terus berbenah diri dan berlomba-lomba dalam kebaikan.   

Arti sesungguhnya dari Makna hijrah adalah membutuhkan pengorbanan, rela untuk melakukan perubahan, berintelektual serta beraklaqul karimah karena hijrah bertujuan untuk berkemajuan. Wujudnya dapat menjadi sebuah budaya agar bangsa ini kedepan dapat terus maju demi menciptakan kesejahteraan kepada seluruh tumpah darah rakyat Indonesia.

Refleksi secara pribadi untuk kembali saya tekankan bahwa bermuhasabah itu penting adanya. Belajar menghargai sesama baik itu dengan masyarakat maupun lingkungan hidup. Sebab alam tidak akan membinasakan manusia apabila manusia itu mau merawat alam seperti manusia merawat dirinya sendiri. Memperbaiki diri menjadi manusia yang makin hari semakin bertakwa kepada Allah SWT.  Maka jadikan Momentum Tahun Baru ini sebagai awal kehidupan untuk memulai kembali kehidupan yang layak serta menjadi insan yang dicintai oleh Allah SWT.

Pada kenyataannya momentum dan kesadaran hijrah bukan hanya sebatas argumen yang bersifat teoritis atau berkonotasi mitologi melainkan harus dibuktikan dengan beberapa rangkaian baik itu secara bertahap atau menyeluruh demi terciptanya masyarakat yang berbudi pekerti luhur, saling menghargai dan tak ada lagi kasus-kasus bermuatan SARA yang dapat mengganggu stabilitas keamanan Negara Indonesia.

Essai : Makna HARKITNAS Melalui Sejarah

HARKITNAS 2019

Pidato bung Karno yang mengatakan  Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jasmerah) sangat penting untuk ditumbuh kembangkan pada era Generasi Ke-4 Dimana Generasi Milennial begitu mendominasi di era sekarang ini. Maraknya Kasus-Kasus Kenakalan Remaja kaum milenial seperti Munculnya Geng-Geng Motor yang meresahkan masyarakat, Tawuran antar Pelajar, Pemakaian Narkoba dan lain sebagainya. Kasus-Kasus yang didakangi oleh Generasi milenial abad ini perlu adanya sebuah tindakan yang efektif untuk menurunkan tingkat Kejahatan yang terjadi dikalangan remaja. Broken Home menjadi pemicu utama mengapa Generasi sekarang lebih cenderung mencari keamanan dan kebahagiaan di lingkungan yang tidak steril.  

Kurangnya Edukasi dan Kontrol Orang tua terhadap anaknya perlu mejadi perhatian serius bagi semua lapisan masyarakat bukan hanya aparat Kepolisiaan saja. Ulah dan Kelakuan geng motor serasa memberikan dampak negatif bagi masyarakat yang berada di Indonesia. Bukan itu saja, aksi-aksi begal jalanan juga kian meresahkan masyarakat. Seakan negeri ini akan rusak dalam waktu singkat. Tentunya semua ini bukan hanya menjadi tugas Aparat Kepolisian tetapi segala lapisan  masyarakat agar peristiwa-Peristiwa Kejahatan dapat diminimalisir serta menciptakan rasa aman bagi Warga Negara yang bermukim di Tanah air tercinta.

Belum lama ini bangsa Indonesia baru saja menyelenggarakan Pemilihan Umum dengan lancar dan terkendali walaupun banyak hal yang terjadi setelah Hasil Pemungutan Suara baik itu melalui Quick Count dan Real Count. Ditambah lagi dengan targedi Meninggalnya Anggota KPPS Yang diakibatkan oleh faktor Kelelahan maupun faktor lainnya. Tentunya beberapa kejadian tersebut sangat menguras tenaga dan pikiran bangsa Indonesia demi menjadikan negeri ini menjadi Negeri yang Sejahtera, Bermartabat, Menjujung tinggi demokrasi. Adil dan Makmur.

Sumpah Palapa adalah Sumpah dari seorang Mahapatih Amangkubumi (perdana menteri ) Kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada ketika itu pastinya memiliki maknanya tersendiri. Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, rin seran, Tanjung Pura, ring haru , ring Pahang Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun Amukti Palapa. Kalimat ini merupakan ucapan dari Perdana Menteri Majapahit (Gajah Mada). Memaknai Sumpah Palapa bahwa tugas pemimpin adalah memberikan yang terbaik bagi Negaranya dan rela berkorban demi keutuhan kejayaan Nusantara dibawah kuasa Kerajaan Majapahit.

Semangat, rela berkorban dan pantang seorang Mahapatih Amungkubumi patut di tiru san sebagai contoh bagi kaum generasi milenial dalam menghadapi arus globalisasi era digital 4.0. generasi milenial tidak hanya belajar dalam bangku sekolah melainkan dapat mampu menggunakan teknologi dengan baik dan positif pastinya. Maraknya konten-konten negatif  yang berbau Asusila, SARA dan lain-lain perlu mendapat perhatian bagi pemerintah agar konten-konten ini tidak menyebar dikalangan generasi milenial itu merupakan pengguna terbesar Media Sosial serta Internet pada era Generasi ke-4.

Nasionalisme akan hadir dibenak para kaum milenial apabila kemasan-kemasan penguatan karakter melalui Belajar Sejarah dapat efejtif dan maksimal. Penanaman budi pekerti luhur tak luput menjadi perhatian baik itu dari Segi Tingkah laku, Kebiasaan dan emosional berakar Religiusitas  sesuai dengan Sila ke-1 Pancasila sebagai lambing Negara. Generasi Milenial yang cenderung melihat sesuatu dalam bentuk konkrit (nyata) dan bukan abstrak maka prosesnya pun harus berbentuk Nyata dan dapat dilihat serta ditiru. Dengan begini, Nasionalisme pasti akan tumbuh berkembang sebagai embrio yang kuat dalam jiwa raga Generasi tersebut dilandasi dengan akhlak mulia dan saling menghargai antar sesama.

Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada bukan hanya sebatas literasi maupun pemakzulan Sejarah melainkan sebuah embrio yang lahir dari sebuah keinginan yang kuat dalam mempersatukan Nusantara dibawah pengaruh Kerajaan Majapahit kala itu. Sebuah hal yang paling kuat dalam membentuk mental generasi penerus yang termasuk dalam Pancasila Sila ke-3 dimana persatuan Indonesia terlahir dari Embrio Sumpah Palapa. Wilayah Nusantara yang telah disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan para pahlawan nasional unrtuk mengikat wilayah Indonesia secara De Jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.  

Dalam Cerita atau di tanah Kaili lebih dikenal dengan sebutan “Tutura” juga turut menceritakan  mengenai Mahapatih Gajah Mada. Sumber dari Bapak Ishak Silorante Mengatakan Nama Gajah Mada  di pevunu dikenal dengan sebutan  I Mbaso atau orang yang besar serta sumber lain yang menggambarkan Sosok Gajah Mada.  Gajah Mada yang digambarkan adalah sosok tangguh dengan bertubuh besar. Diketahui Kerajaan di tanah Kaili telah ada pada masa kejayaan Kerajaan Sunda yang mereka sebut adalah Negeri/Negara. Serta ada peninggalan lainnya.

Masuknya Islam di Nusantara dan Runtuhnya Kerajaan Majapahit membuat wilayah-wilayah melayu menjadi Kerajaan yang memisahkan diri dari hegemoni Kerajaan Majapahit. Maka mulai bermunculan Kerajaan-Kerajaan bercorak Islam. Salah satu Kerajaan Itu adalah Samudera Pasai yang merupakan Kerajaan Islam Pertama di Nusantara.  Hal yang dapat dipetik dari Munculnya Budaya-Budaya Islam adalah Ahlakul Karimah sesuai dengan Ajaran-ajaran Rasullullah SAW. Generasi Milenial harus tahu dan paham bahwa Islam adalah Agama Rahmatan Lil alamin. Dengan tujuan menyempurnakan akhlak yang baik dan memberikan contoh teladan dari Pribadi Rasullullah SAW.

Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malikul as-Saleh, sektar Tahun 1267, keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ilaI-masyrig pengembaraan ke timur karya Ibnu Batutah. Kesultanan Pasai, Juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai yang merupakan Kerjaaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih disekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Nangroe Aceh Darusslam. Berdasarkan catatan Ibnu Batutah, Islam Sudah ada di Samudera Pasai sejak abad ke-12 M. Raja dan Samudera Pasai mengiukurti mazhab Syafei. Setelah setahun Ibnu Batutah meneruskan pelayarannya ke Cina. Dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada Tahun 1347. Kesultanan Pasai juga menjalin Hubungan dengan Orang-Orang Arab, Kerajaan Turki Ustmani dan Kerajaan Dinasti Ming.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Bangsa Melayu yang ada Di Nusantara membuka lebar siapa saja yang mau melakukan hubungan kerjasama terhadap kerajaannya( tangan terbuka). Generasi Milenial harus bisa memahami bahwa hidup saling menghargai dan menghormati antar sesama itu lebih baik di banding saling menghujat dan ikut terhadap kawanan geng motor maupun komunitas anak alay. Sebaiknya mengisi kemerdekaan harus melakukan hal-hal yang positif dimulai dan harus tertanam dari diri sendiri dahulu.

Seabad Lebih telah berlalu dan bukan sebuah kenangan melainkan sesuatu pencapaian yang patut diberi penghormatan setinggi-tingginya dan penghargaan terhadap Jasa-Jasa Perjuangan Pahlawan Pergerakan Nasional yang telah gugur demi sebuah pencapaian cita-cita Kemerdekaan dalam kerangka BANGKIT UNTUK BERSATU. Dari mereka kemajemukan bangsa bukan penghalang untuk dapat menciptakan persatuan dan kesatuan sebab dengan bersatu kemerdekaan itu dapat diraih.  Peristiwa 20 Mei ini ditandai dengan berdirinya Organisasi Pergerakan Nasional Boedi Utomo dengan garis militansi yang kuat yang didirikan oleh Dr. Wahidin Soedirohusodo dan Dr. Soetomo. Selain itu Organisasi Pergerakan Nasional yang tidak kalah militansinya adalah Sarekat Islam Pimpinan Tjokroaminoto  dengan keanggotaan mencapai seluruh Nusantara.

Berawal dari Sifat mereka yang moderat kemudian beralih Ke Organisasi yang bersifat radikal yang disebabkan oleh Volksraad ciptakan Kolonial Belanda Tidak bisa memberikan harapan. Mengenai hari kelahiran Sarekat Islam masih menimbulkan tanda Tanya mengapa?. Karena dalam sebuah sumber dijelaskan bahwa hari kelahiran Sarekat Islam adalah 16 Oktober 1905 dua tahun lebih awal dari Boedi Utomo. Namun dalam catatan sejarah Menjelaskan bahwa Pendirian Sarekat Islam itu, pada tanggal 9 November 1911 sesuai dengan akta Pendirian yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Meskipun begitu, Perjuangan Sarekat Islam demi Kemerdekaan Indonesia tak pernah surut sebagai contoh bahwa ada sebuah peran dan pengaruh besar dari Sarekat Islam dalam Perlawanan Rakyat Salumpaga menentang Kebijakan Kontrolir Tolitoli.

Pengorbanan dan Semangat untuk merdeka para pendahulu kita perlu mendapat apresiasi dari kalangan generasi milenial bahwa sesungguhnya perjuangan mereka bukan main-main maka harus diisi kemerdekaan itu dengan sesuatu yang bermanfaat. Tidak ikut-ikutan dengan generasi lainnya yang hanya merusak kaidah berbanngsa dan bernegara. Perlu adanya Internalisasi nilai-nilai sejarah yang efektif dan ikut serta dalam kegiatan Ekstrakurikuler yang positif seperti Pramuka, PMR dan Ekstrakurikuler Kesenian serta Olahraga.   

Kondisi Kemajemukan bangsa dilihat dari kondisi geografis wilayah Indonesia cenderung mempengaruhi bahasa, Suku, Agama dan Adat Istiadat yang berbeda-beda. Dari kondisi ini dapat menciptakan kerawanan atau konflik jika tidak ada alat pemersatu Nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Namun hingga sekarang bangsa Indonesia mampu membuktikan bahwa sebuah Perbedaan adalah rahmat dari Tuhan yang Maha Esa yang patut disyukuri bersama. Kita yakin dan pasti bahwa segala perbedaan itu pasti akan mendapat jalan temu apabila bangsa ini memikirkan satu Kesatuan demi Ibu Pertiwi agar kelak kita dapat mewariskan kekayaan Indonesia kepada ana cucu kita.   

Peringatan Momentum Harkitnas ini secara kebetulan bertepatan  dengan Bulan Suci Ramadhan yang jatuh pada 15 Ramadhan 1440 H dan selanjutnya kita masuk pada 17 Ramadhan dimana pada Malam ini Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai Pedoman bagi Umat Islam dan juga Pedoman dalam berbangsa dan bernegara agar akhlak kita dapat selalu terpuji untuk tidak memandang remeh sesama maupun bangsa lain.

Gotong royong adalah salah satu budaya bangsa yang makin hari mulai bergeser disebabkan individualitas masyarakat Indonesia yang hanya mementingkan diri sendiri. Perlu diketahui Budaya Gotong royong adalah budaya yang orang-orang timur (Melayu) dengan niat tulus ikhlas  ingin membantu sesama. Generasi milenial perlu diajarkan untuk ini agar mereka dapat memahami dan mengetahui serta mengaktualisasikannya karena Budaya Gotong royong adalah Budaya Nenek Moyang yang harus dilestarikan. Dengan mengajak Generasi Milenial untuk membersihkan Taman Makam Pahlawan, Situs Cagar Budaya, Rumah adat serta bentuk Peninggalan lainnya maka kita telah mengajarkan mereka bagaimana Itu Belajar Sejarah dalam bentuk Refleksi sehingga Sejarah dapat Memperkuat Identitas Bangsa.   

Pentingnya memperkuat identitas bangsa sebagai bentuk akan kesadaran sejarah dalam menerapkan nilai-nilai sejarah khusus dikalangan generasi milenial yang telah terkikis oleh zaman yang amat canggih seperti sekarang ini. Dalam menanamkan identitas bangsa tentunya tidaklah mudah diperlukan sebuah kesabaran. Hasil dari kesabaran ini akan berbuah  yang baik-baik demi masa depan generasi milenial yang cerah jauh dari kriminalitas dan predator yang akan mengancam mereka setiap saat.

Berangkat dari tema yang diangkat oleh Pemerintah pada peringatan Harkitnas Tahun 2019 “BANGKIT UNTUK BERSATU”. Membuktikan bahwasanya sesulit apapun rintangan itu kita dapat melaluinya kalau kita bangkit pantang berputus asa dan pantang menyerah sesuai dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pendiri bangsa ini pasti Indonesia bisa menjadi Negara Maju dikemudian hari. Bersatulah..Bersatulah dan Bersatulah demi Generasi Milenial Penerus Bangsa Ini dikemudian Hari.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional yang ke  111 Tahun 2019/15 Ramadhan 1440 H.

Jadikan momentum Harkitnas ini sebagai bentuk refleksi dan instrospeksi diri tanpa terkecuali oleh Generasi Milenial yang sekarang ini mengalami degradasi moral dan budi pekerti. Permisi/Tabe

#SonggoMpoasi/TerimaKasih    

PENULIS : MOHAMMAD ZASRIANSYAH, S.Pd